Pergilah



Harus bagaimana aku menghindarimu?
Bahkan harus kulalui saat-saat menyakitkan ini hanya untuk membuatmu menyerah
Aku mohon…
Berhentilah mencintaiku
Jangan pernah berharap aku akan jadi pendampingmu
Berhentilah…
Berhenti sampai disini
Menggunakan segala cara tuk merebut hatiku
Karena aku tak bisa mencintaimu
Karena cintamu satu hal tabu untukku

Hari-hari akhir tahun

Masih disini
Menampung debu-debu
Menjaring kepulan asap
Menangkap sinar-sinar mentari
Merangkai keringat menjadi bianglala

Indah



Secuil puji darimu
Memberi kilau pada senyumku
Bagai pudar lampu-lapu kota di malam hari
Eloknya aku dimatamu
Seolah aku adalah cahaya aurora
Berharganya aku tuk jiwamu
Laksana mutu manikam yang selalu ingin kau jaga
Indahku karenamu
Bahagiaku mengenal cintamu
Walau dunia bukan milik kita
Dan seribu lorong waktu berpilin di jalan kita
Namun kaulah yang membuatku bangkit
Dari tidur panjang kekecewaan

November 19th

Langit pagi 19 November
Matahari merah saga
Bulat penuh dicakrawala abu-abu
Nasib masih mengayunku di lantai 4
Apartemen angkuh
Masih tak pasti
Kapan menjemput mimpi di bulan materi

Tangguh



Disini aku kembali terlahir
Diantara tangan-tangan pengasuh padi
Yang hanya dapat mengeja a, b, dan c
Ternyata mampu mengajarkan kerelaan
Diantara papa materi dan lugu pikir
Mereka ajarkan ketinggian jiwa
Hingga aku belajar, merangkak, tertatih dan berlari
Hingga aku mengerti arti tangis dan tawa
Guruku adalah gedung-gedung
Guruku adalah tugas-tugas
Guruku adalah sedikit perselisihan
Guruku adalah cemoohan dan sindiran
Maka aku menjadi liat
Maka aku tak lagi getas
Maka aku adalah pembelajar

Anak-anak surga



Jangan tumpahkan air matamu ibu, karena aku tumbuh dari meneguk tetesannya
Kau lihatkah hati yang haus ini ibu?
Yang tersusun darah rindu pada tiap kucurannya
Aku bukan rusak binasa ibu, melainkan tertempa menjadi peluru
yang akan mengoyak jantung musuhku
Jangan mengira aku telah meninggalkanmu ibu, bukankah engkau yang menyerahkanku dalam pengajaranNya?
Aku ini ibu, tengah membalas lembut beledu rahimmu dengan hamparan rumput hangat
Aku tidak mendahuluimu ibu, tetapi tengah berlari membukakan gerbang surga untukmu
Serpih ranjau yang menancap didadaku ini ibu, adalah tiketmu menuju surga
Maka jangan sia-siakan air matamu itu ibu, karena ia adalah kain kafanku…

Rumah yang ditinggalkan



1999
Ketika mereka menanamku menghunjam dalam
Tak seorangpun tahu
Bila hatiku mulai terbentuk
Bahkan angin yang meniup-niup telingaku
Atau rayap yang mengelitik kakiku,
mencari peluang memakan lunak kepingan diriku

Dengan hati mereka menciptaku
Dengan cinta mereka menyentuhku

Memberiku tangis kanak-kanak,
Memberiku warna-warna,
Memberiku kebanggaan
Niscaya dengan hati dan cinta pula aku tangisi kepergian mereka

Kucermati tiap lekuk ruang-ruangku, tak ada yang salah denganku
Mengapa aku ditinggalkan?
Aku bertanya, aku berteriak, aku meronta
Tapi sayang, mengapa mereka tak pamit denganku

Yang lebih berhak atas ucapan selamat tinggal itu…

2 warna

Ketika semua mewarnaiku hitam putih,
Kau tuang berjuta warna dimatamu hingga aku tercelup tinta bianglala

Ketika aku hanya sebuah potret kusam masa lampau
Kau cetak lembaranku dalam kertas terang

Ketika aku tak menjadi arti bagi diriku
Kau bentuk aku menjadi tembikar kokoh berkilat

Kau tawarkan arti hidupku dengan sebentang harapan
Tapi aku terlanjur lebur menjadi air matamu yang tak pernah menetes

Hingga kau tak menduga aku telah berada begitu dekat

Akulah siang yang tak pernah kau jumpai selama waktu bergulir
Karena kau telah menjelma menjadi malam tak tersanding

Aku ingin pulang

aku lelah sungguh...
berjalan dalam gelap tak tau kemana arah
hanya satu yang pasti... aku semakin mendekat pada samar cahaya itu
kukumpulkan segenap keyakinan yang terpencar, sekuat daya hendak kurangkum dan kupadatkan dalam
setitik jiwa yg tak beriak. duhai yang menggenggam jiwa, tuntun aku pulang......
pada langit pada yang diam....
padaMU yang menyejukkan...

Bayangan Bulan

bulan segilima
bening memantul cahya
menggantungi wajah berjuta
kekasih-kekasih di taman jiwa
memburai-burai mendung di dada
yang dekat hanya KAU saja

TAKUT

terengah nafasku
meremang pembuluh darahku
mengecil pula pupil mataku
menyaksikan ia perlahan meluncur keluar dari celah2 hari, menyeretku, menjambakku, ke dalam dunia yg tak kumengerti.disuguhkannya padaku semangkuk gelisah yg harus kureguk perlahan, amis, anyir, pekat. aku tengadah mencariNya, lindungi aku, lindungi aku dari takutku

sedikit

sabtu
sedikit luruskan punggung
sedikit longgarkan napas
sedikit selonjorkan kaki
sedikit lapangkan dada
menunggu malam datang
menanti kecintaan menyapa
bunda.....

sarang lebah

tengah malam ketika mata tak juga terpejam dan jiwa tak juga lena
gedung gedung masih terjaga, lampu nyala lampu padam berselang seling dalam julangan yg melangit. dalam pandangan mata awamku tampak seperti sarang sarang lebah raksasa, ruang kosong ruang terisi, dilatari hitamnya langit malam. begitu indah dalam mata telanjang, namun hanya kulit belaka yg tampak. sesungguhnya aku tengah berada di negeri kebendaan, segala sesuatu diukur dari materi......
akupun penuh dg tanya, sesungguhnya apa makna keberadaan kita di dunia ini????????